Kamis, 03 Mei 2012

PENDEKATAN PROBLEM SOLVING


Peningkatan relevansi pendidikan dimaksudkan untuk menghasilkan lulusan yang sesuai dengan tuntutan kebutuhan berbasis potensi sumber daya alam Indonesia. Peningkatan efisiensi manajemen pendidikan dilakukan melalui penerapan manajemen berbasis sekolah dan pembaharuan pengelolaan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan.
Istilah kurikulum memiliki berbgai tafsiran yang dirum,uskan oleh pakar-pakar dalam bidang ppengembangan kurikulum sejak dulu sampai dengan sekarang ini. Dari serangkaian tafsiran para pakar-pakar ini memberikan arti kurikulum sebagai:
1.      Kurikulum memuat isi dan materi pelajaran
Kurikulum ialah sejumlah mata ajaran yang harus ditempuh dan dipelajari oleh siswa untuk memperoleh sejumlah pengetahuan.
2.      Kurikulum sebagai rencama pembelajaran.
Suatu program pendidikan yang disediakan untuk membelajarkan siswa. Dengan program ini siswa melakukan berbagai kegiatan belajar, sehingga terjadi perubahan dan perkembangan tingkah laku siswa sesuai dengan tujuan pendidikan dan pembelajaran.
3.      Kurikulum sebagai pengalaman belajar

Coba kita lihat salah satu bagian dari tujuan umum pada SK dan KD yaitu:
Mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah
2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika
3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh
4. Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah
5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
Dilihat dari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) bahwa pada seluruh komponen baik pada SI, SK dan KD serta pada SKL telah dijabarkan dengan jelas bahwa pendekatan yang digunakan pada matematika adalah pemecahan masalah (Problem Solving). Tapi perlu kita tahu apa itu pendekatan pemecahan masalah dalam matematika.
v  Pengertian Problem Solving
Istilah Problem Solving sering digunakan dalam berbagai bidang ilmu dan memiliki pengertian yang berbeda-beda pula. Tetapi Problem Solving dalam matematika memiliki kekhasan tersendiri. Secara garis besar terdapat tiga macam interpretasi istilah Problem Solving dalam pembelajaran matematika, yaitu:
(1) Problem Solving sebagai tujuan (as a goal),
(2) Problem Solving sebagai proses (as a process), dan
(3) Problem Solving sebagai keterampilan dasar (as a basic skill).
1. Problem Solving sebagai tujuan
Para pendidik, matematikawan, dan pihak yang menaruh perhatian pada pendidikan matematika seringkali menetapkan Problem Solving sebagai salah satu tujuan pembelajaran matematika. Bila Problem Solving ditetapkan atau dianggap sebagai tujuan pengajaran maka ia tidak tergantung pada soal atau masalah yang khusus, prosedur, atau metode, dan juga isi matematika. Anggapan yang penting dalam hal ini adalah bahwa pembelajaran tentang bagaimana menyelesaikan masalah (solve Problems) merupakan “alasan utama” (primary reason) belajar matematika.
2. Problem Solving sebagai proses
Pengertian lain tentang Problem Solving adalah sebagai sebuah proses yang dinamis. Dalam aspek ini, Problem Solving dapat diartikan sebagai proses mengaplikasikan segala pengetahuan yang dimiliki pada situasi yang baru dan tidak biasa. Dalam interpretasi ini, yang perlu diperhatikan adalah metode, prosedur, strategi dan heuristik yang digunakan siswa dalam menyelesaikan suatu masalah. Masalah proses ini sangat penting dalam belajar matematika dan yang demikian ini sering menjadi fokus dalam kurikulum matematika. Sebenarnya, bagaimana seseorang melakukan proses Problem Solving dan bagaimana seseorang mengajarkannya tidak sepenuhnya dapat dimengerti. Tetapi usaha untuk membuat dan menguji beberapa teori tentang pemrosesan informasi atau proses Problem Solving telah banyak dilakukan. Dan semua ini memberikan beberapa prinsip dasar atau petunjuk dalam belajar Problem Solving dan aplikasi dalam pengajaran.
3. Problem Solving sebagai keterampilan dasar
Terakhir, Problem Solving sebagai keterampilan dasar (basic skill). Pengertian Problem Solving sebagai keterampilan dasar lebih dari sekedar menjawab tentang pertanyaan: apa itu Problem Solving? Ada banyak anggapan tentang apa keterampilan dasar dalam matematika. Beberapa yang dikemukakan antara lain keterampilan berhitung, keterampilan aritmetika, keterampilan logika, keterampilan “matematika”, dan lainnya. Satu lagi yang baik secara implisit maupun eksplisit sering diungkapkan adalah keterampilan Problem Solving. Beberapa prinsip penting dalam Problem Solving berkenaan dengan keterampilan ini haruslah dipelajari oleh semua siswa, seperti yang dikemukakan oleh George Polya tahun 1945.
v  Problem Solving dalam Pengajaran Kelas
Ada sejumlah alasan kuat mengapa Problem Solving perlu ditekankan sebagai aspek penting dan sangat berarti dalam menciptakan pengajaran matematika yang efektif. Alasan pertama adalah harapan untuk membuat matematika lebih dapat diterapkan (more applicable) dalam kehidupan murid diluar pengajaran kelas atau dalam situasi baru yang belum familiar. Alasan yang kedua adalah Problem Solving memberikan kesempatan (opportunities) dan dapat mendorong siswa berdiskusi tentang dengan siswa yang lainnya, yaitu pada proses menemukan jawab dari permasalahan. Alasan lebih lanjut mengapa pendekatan Problem Solving sangat berharga (valuable) adalah karena Problem Solving dapat mendorong murid untuk menyusun teorinya sendiri (their own theories), mengujinya, menguji teori temannya, membuangnya jika teori tersebut tidak konsisten dan mencoba yang lainya.
v  Implementasi Problem Solving
Dalam diskusi kemungkinan implementasi matematika Problem Solving, saya yakin bahwa sekurang-kurangnya ada tiga faktor penting yang harus difikirkan. Pertama, merubah peranan guru (changing the role of teacher). Kedua, merubah susunan kelas (changing classroom management) dan, ketiga, menganalisa topik dalam kurikulum matematika Indonesia yang mungkin dapat mengakomodasi dan lebih efektif jika menggunakan pendekatan Problem Solving.
Dalam hal merubah peran guru, perlu disadari bahwa strategi pembelajaran Problem Solving telah merubah gaya murid belajar (students’ style learning) dari sebagai murid pasif belajar menjadi murid yang aktif belajar (construct their own concepts). Sebagai konsekuensi menuntut berubahnya peran guru. Dalam hal berubahnya peran guru, Groves menyatakan bahwa peranan guru adalah sesuatu yang crusial, guru perlu benar-benar terlibat dalam menstimulasi murid untuk aktif berfikir (stimulating children to think), menjaga semangat belajar siswa (maintaining interest), menjaga rasa percaya anak (confidence) dan mengelolanya (organizing) jika diperlukan. Lebih jauh lagi, Stacey and Groves menambahkan bahwa peranan guru adalah:
1. Membawa murid pada suasana siap menerima tantangan atau permasalahan, sebab sebuah masalah bukanlah masalah sampai murid menyadari dan ingin memecahkannya.
2. Membangun atmosper kelas yang mendukung, dimana murid disiapkan untuk memecahkan permasalahan yang asing dan tidak merasa tertekan ketika mereka menghadapi kebuntuan (stuck).
3. Mempersilahkan anak untuk mengikuti cara mereka dalam menemukan solusi dan membantu mereka ketika memerlukan, tanpa memberikan jawaban.
Merubah susunan tempat duduk di kelas. Yang maksudkan di sini adalah bagaimana mengorganisasi murid sesuai dengan aktivitas yang ada pada Problem Solving. Berdasarkan pengalaman pada pengajaran matematika di sekolah, murid-murid di kebanyakan sekolah duduk secara berbaris (sit in a row) dan hal itu kemungkinan membuat sulit untuk melakukan diskusi dengan teman yang lainnya dalam mengeksplorasi gagasan dan konsep yang tersembunyi di balik (beyond) permasalahan yang diberikan — dan ini sering disebut sebagai salah satu karakteristik (key feature) dari Problem Solving. Hodgson  menyarankan bahwa kelompok kerja (group work) adalah sesuatu yang esensi dalam pengajaran Problem Solving. Lebih lanjut, Burns menyatakan bahwa belajar bersama dalam group kecil (small group) memberikan banyak kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dengan konsep dibanding dengan apabila murid diskusi kelas besar (class discussion). Keuntungan lain dari grup kecil ini, dintaranya murid memiliki kesempatan untuk bisa berbicara banyak, lebih nyaman untuk ambil resiko (taking the risks) dalam menguji coba pemikirannya selama aktivitas Problem Solving. Oleh karena itu, perlu merubah posisi tempat duduk siswa agar memungkinkan mereka aktif berpartisipasi dalam diskusi.
v  Kesulitan yang Mungkin Dihadapi
Beberapa kesulitan yang berarti mungkin ditemukan ketika mengasimilasikan Problem Solving matematika ke dalam praktek pengajaran di kelas.
  1. Kurangnya pengetahuan dan keahlian guru dalam menerapkan Problem Solving (teachers lack of the Problem Solving and modelling skills).
  2. Isi dari kurikulum sangat padat dan tidak ada celah untuk Problem Solving (the curriculum content is very full and there is no room for Problem Solving).
  3. Sistem pengujian (assessment system) masih disentralkan dan ini tidak relevan dengan gagasan Problem Solving dikarenakan jenis tesnya cenderung dan dominan berbentuk pilihan ganda (multiple choice form). Jenis tes ini tidak memberikan kesempatan pada anak untuk berfikir sebagaimana yang mereka lakukan pada proses Problem Solving.
  4. Besarnya jumlah siswa (the large number of students) dalam setiap kelas juga merupakan salah satu hambatan yang cukup berarti. Karena ini bisa menyebabkan sulitnya bagi guru untuk berinteraksi dengan muridnya ketika Problem Solving matematika diimplementasikan.
  5. Perlu waktu yang lebih (need more time) baik dalam pencarian atau pendesainan Problem (sebab setiap Problem perlu disusun dengan hati-hati untuk mencapai hasil belajar siswa) maupun berlangsungnya aktivitas Problem Solving (Problem Solving progress) di kelas.
Dari penjelasan tersebut di atas, memang tidak ada keraguan bahwa ada sejumlah kesulitan dalam asimilasi Problem Solving ke dalam pengajaran matematika, tapi keuntungan yang ada jauh melebihi dari pada hambatan yang ditemukan.
v  Pentingnya Problem Solving
Menurut Polya, pekerjaan pertama seorang guru matematika adalah mengerahkan seluruh kemampuannya untuk membangun kemampuan siswa dalam menyelesaikanmasalah. Mengapa hal ini menjadi penting? Alasan pertama adalah karena siswa (bahkan guru, kepala sekolah, orang tua, dan setiap orang) setiap harinya selalu dihadapkan pada suatu masalah, disadari atau tidak. Karena itu pembelajaran pemecahan masalah sejak dini diperlukan agar siswa dapat menyelesaikan Problematika kehidupannya dalam arti yang luas maupun sempit.
Dalam pembelajaran matematika ini aspek pemecahan masalah menjadi semakin penting. Mengapa? Ini dikarenakan matematika merupakan pengetahuan yang logis, sistematis, berpola, artifisial, abstrak, dan yang tak kalah penting menghendaki justifikasi atau pembuktian. Sifat-sifat matematika ini menuntut pembelajar menggunakan kemampuan-kemampuan dasar dalam pemecahan masalah, seperti berpikir logis, berpikir strategik. Selain itu secara timbal balik maka dengan mempelajari matematika, siswa terasah kemampuan dalam memecahkan masalah. Hal ini dikarenakan strategi dalam pemecahan masalah matematika bersifat “universal” sesuai sifat matematika sebagai bahasa yang universal (artifisial, simbolik).
Selain itu, McIntosh, R. & Jarret, D. (2000:6) menyatakan “The thinking and skills required for mathematical Problem Solving transfer to other areas of life”.Secara sistematis, Taplin menegaskan pentingnya Problem Solving melalui tiga nilai yaitu fungsional, logikal, dan aestetikal. Secara fungsional, Problem Solving penting karena melalui Problem Solving maka nilai matematika sebagai disiplin ilmu yang esensial dapat dikembangkan. “It has already been pointed out that mathematics is an essential discipline because of its practical role to the individual and society. Through a Problem-Solving approach, this aspect of mathematics can be developed.”, demikian ditegaskan Taplin (2007). Dengan fokus pada Problem Solving maka matematika sebagai alat dalam memecahkan masalah dapat diadaptasi pada berbagai konteks dan masalah sehari-hari.
Selain sebagai “alat” untuk meningkatkan pengetahuan matematika dan membantu memahami masalah sehari-hari, maka Problem Solving juga merupakan cara berpikir (way of thinking). Dalam perspektif terakhir ini maka Problem Solving membantu kita meningkatkan kemampuan penalaran logis. Terakhir, Problem Solving juga memiliki nilai aestetik. Problem Solving melibatkan emosi/afeksi siswa selama proses pemecahan masalah. Masalah Problem Solving juga dapat menantang pikiran dan bernuansa teka-teki bagi siswa sehingga dapat meningkatkan rasa penasaran, motivasi dan kegigihan untuk selalu terlibat dalam matematika.
Lebih lanjut pentingnya Problem Solving juga dapat dilihat pada perannya dalam pembelajaran. Stanic & Kilpatrick seperti dikutip McIntosh, R. & Jarret, D. (2000:8).  membagi peran Problem Solving sebagai konteks menjadi beberapa hal:
1. Untuk pembenaran pengajaran matematika.
2. Untuk menarik minat siswa akan nilai matematika, dengan isi yang berkaitan dengan masalah kehidupan nyata.
3. Untuk memotivasi siswa, membangkitkan perhatian siswa pada topik atau prosedur khusus dalam matematika dengan menyediakan kegunaan kontekstualnya (dalam kehidupan nyata).
4. Untuk rekreasi, sebagai sebuah aktivitas menyenangkan yang memecah suasana belajar rutin.   
5. Sebagai latihan, penguatan keterampilan dan konsep yang telah diajarkan secara langsung (mungkin ini peran yang paling banyak dilakukan oleh kita selama ini).


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar