Kamis, 03 Mei 2012

aliran Mu’tazilah



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
        Pemikiran-pemikiran para filosof dari pada ajaran dan wahyu dari Allah sehingga banyak ajaran Islam yang tiddak mereka akui karena menyelisihi akal menurut prasangka mereka Berbicara perpecahan umat Islam tidak ada habis-habisnya, karena terus menerus terjadi perpecahan dan penyempalan mulai dengan munculnya khowarij dan syiah kemudian muncullah satu kelompok lain yang berkedok dan berlindung dibawah syiar akal dan kebebasan berfikir, satu syiar yang menipu dan mengelabuhi orang-orang yang tidak mengerti bagaimana Islam telah menempatkan akal pada porsi yang benar. sehingga banyak kaum muslimin yang terpuruk dan terjerumus masuk pemikiran kelompok ini. akhirnya terpecahlah dan berpalinglah kaum muslimin dari agamanya yang telah diajarkan Rasulullah dan para shahabat-shahabatnya. Akibat dari hal itu bermunculanlah kebidahan-kebidahan yang semakin banyak dikalangan kaum muslimin sehingga melemahkan kekuatan dan kesatuan mereka serta memberikan gambaran yang tidak benar terhadap ajaran Islam, bahkan dalam kelompok ini terdapat hal-hal yang sangat berbahaya bagi Islam yaitu mereka lebih mendahulukan akal dan
Oleh karena itu sudah menjadi kewajiban bagi seorang muslim untuk menasehati saudaranya agar tidak terjerumus kedalam pemikiran kelompok ini yaitu kelompok Mu’tazilah yang pengaruh penyimpangannya masih sangat terasa sampai saat ini dan masih dikembangkan oleh para kolonialis kristen dan yahudi dalam menghancurkan kekuatan kaum muslimin dan persatuannya.
        Bermunculanlah pada era dewasa ini pemikiran mu’tazilah dengan nama-nama yang yang cukup menggelitik dan mengelabuhi orang yang membacanya, mereka menamainya dengan Aqlaniyah... Modernisasi pemikiran. Westernasi dan sekulerisme serta nama-nama lainnya yang mereka buat untuk menarik dan mendukung apa yang mereka anggap benar dari pemkiran itu dalam rangka usaha mereka menyusupkan dan menyebarkan pemahaman dan pemikiran ini. Oleh karena itu perlu dibahas asal pemikiran ini agar diketahui penyimpangan dan penyempalannya dari Islam, maka dalam pembahasan kali ini dibagi menjadi beberapa pokok pembahasan


B.      Rumusan Masalah
1.       Apakah yang menimbulkan  aliran Mu’tazilah lahir ?
2.       Siapakah tokoh-tokoh pendiri Mu’tazilah dan apa saja pendapat mereka tantang ajaran Mu’tazilah ?
3.       Apa saja doktrin paham Mu’tazilah ?
C.      Tujuan
1.        Dapat mengetahui latar belakang munculnya aliran Mu’tazilah.
2.       Dapat mengetahui tokoh dan pendapat mereka tenteng aliran Mu’tazilah.
3.       Dapat mengetahui doktrin dari aliran Mu’tazilah.


BAB II
PEMBAHASAN

A.      Asal usul Timbulnya Kaum Mu’tazilah
Secara harfiah kata mu’tazilah berasal dari kata I’tazala yang berarti berpisah atau memisahkan diri yang berrti juga menjauh atau menjauhkan diri.Secara teknis, istilah mu’tazilah menunjuk pada dua golongan .

                Golongan pertama (selanjutnya disebut mu’tazilah 1)muncul sebagai respon politik murni.golongan ini tumbuh sebagai kaum netral politik khususnya dalam arti bersikap lunak dalam menangi pertentangan antara ali bin abi tholib dan lawan- lawannya, terutama muawiyah, aisyah, abdul bin zubair. Menurut penulis golonganinilah yang mula-mula disebut kaum mu’tazilah karena mereka menjauhkan diri dari pertikaian masalah khilafah. Kelompok ini bersifat netral politik tanpa stigma teologis seperti yang ada pada kaum mu’tazilah yang tumbuh di kemudian hari .
                Golongan kedua (selanjutnya disebut mu’tazilah 2)muncul sebagai respon persoalan teologis yang berkembangdikalangan khawarij dan murjiah akibat adanya peristiwa tahkim. Golongan ini muncul karena mereka berbeda pendapat dengan golongan khawarij dan murjiah tentang pemberian status kafir kepeda orang yang berbuat dosa besar. 1[1]) 
                Beberapa versi tentang pemberian nama mu’tazilah pada golongan kedua ini berpusat pada peristiwa yang terjadi antara peristiwa washil bin atha dan temannya. Amr bin ubaid, hasan al basri di basrah.  Menurut Syahrastani,Wasil selalu mengikuti pelajaran –pelajaran yang diberikan hasan al-basri di masjid basrah .pada suatu hari datang seorang bertanya mengenai pendapatnya tentang orang yang berdosa besar.sebagaimana yang diketahui kaum khawarij memandang mereka kafir sedang kaum murji’ah menganggapnya mukmin.ketika hasan al-basri masih berpikir ,wasil mengeluarkan pendapatnya sendari dengan mengatakan :”Saya berpendapat bahwa orang yang berdosa besar bukanlah mukmin dan bukan pula kafir,tetapi mengambil posisi di antara keduanya;tidak mukmin dan tidak pula kafir.”kemudian ia berdiri dan menjauhkan diri dari hasan al-basri pergi ketempat lain di mesjid;di sana ia mengulangi pendapatnya kembali.atas peristiwa ini hasan al-basri mengatakan:”wasil menjauhkan diri dari kita(I’tizala’anna)dengan demikian ia serta temen-temanya,kata al-syahrastani,disebut kaum mu’tazilah. [2]
Menurut al- Baghdadi,Wasil dan temanya’amr ibn  ubaid ibn bab diusir oleh hasan al-basri dari majlisnya karena adanya pertikaian antara mereka mengenai persoalan qadar dan orang yang berdosa besar.keduanya menjauhkan diri dari hasan al-basri dan mereka serta pengikut-pengikutnya disebut kaum mu’tazilah karena mereka menjauhkan diri dari paham umat islam tentang soal orang yang berdosa besar.menurut mereka orang yang seperti ini di sebut kaum tidak mukmin dan tidak pula kafir.demikian keterangan al-baghdadi tentang pemberian nama Mu’tazilah kepada golongan ini.[3]
Menurut Tasy Kubra Zadah,yang menyatakan bahwa Qatadah bin Da’mah pada suatu hari masuk masjid basrah dan bergabung dengan majlis Amr bin ubaid yang disangkanya adalah majlis hasan al-basri .setelah mengetahuinya setelah mengetahuinya bahwa majlis tersebut adalah bukan majlis hasan al-basri,ia berdiri dan meninggalkan tempat dan sambil berkata.”ini kaum mu’tazilah.”sejak itulah kaum tersebut dinamakan kaum mu’tazilah.[4]
Menurut  al-mas’udi,memberikan keterangan tentang asal-usul kemunculan Mu’tazilah tanpa menyangkut –pautkananya dengan peristiwa antara wasil dan hasan al- basri .mereka diberi nama Mu’tazilah ,katanya karena berpendapat bahwa orang yang berdosa bukanlah  mu’min dan bukan pula kafir,tetapi menduduki tempat diantara kafir ldan m u’min (al-manzilah bain al-manzilatain,)dalam artian mereka member status kepada orang lain yang berbuat dosa besar itu jauh dari golongan  mu’min dan kafir.[5]



Aliran mu’tazilah lahir kurang lebih pada permulaan abad pertama hijrah di kota basrah (irak),pusat ilmu dan peradaban islam di masa itu,tempat perpaduan aneka kebudayaan asing dan pertemuan bermacam-macam agama.kemudian secara perlahan-lahan aliran mu’tazilah ini memperoleh pengaruh di tengah-tengah masyarakat,terutama di  bagdad.pengaruh ini mencapai puncaknya pada masa tiga khulafa’Bani abbas,yakni alma’mun (198-218H),Al-mu’tashim(218-227H)dan all-watsiq(227-232H)lebih-lebih setelah alma’mun mengakui aliran mu’tazilah sebagai mazhab resmi Negara pada tahun 212H.
Semula aliran mu’tazilah ini ditempat kelahiranya,yaitu basrah ,tokoh-tokohnya senantiasa mwenghindarkan diri dari tawaran –tawaran jabatan di dalam badan-badan pemerintahan ,karena demikian mereka merasa bebas untuk melakukan penelitian dan mengemukakan pendapat tanpa harus terikat oleh kemestian “menenggang”pihak atasan atau penguasa.semmentara kegiatan penyebaran pahamnyapun tanpa bantuan penguasa
        
B.  Doktrin-doktrin  Mu’tazilah
1. Al-Tauhid
Tauhid adalah inti dari ajaran mereka,didalam tauhid ini mereka mempunyai aliran sendiri,falsafah dan analisa sendiri.Karena itu ia menamakan dirinya ahli tauhid ,walaupun tiap-tiap orang islam mentauhidkan atau mengesakan Tuhan.[6]
Orang- orang mu’tazilah dikatakan ahli tauhid karena mereka berusaha semaksimal mungkin mempertahankan prinsip ketauhidannya dari serangan syiah rafidiah yang menggambarkan tuhan dalam bentuk jisim dan bisa dihindari dari serangan agama dualisme dan trinitas.[7]
Ketauhidan dari golongan mu’tazilah
-          Sifat- sifat tuhan tidak bersifat qadi kalau sifat tuhan itu qadim berarti allah itu berbilang.
-          Mereka menafikan sifat tuhan
-          Allah tidak dapat diterka dan dilihat walaupun diakhirat nanti
-          Tuhan itu esa bukan benda dan tidak berlaku arrad dan tempat padanya.[8]
Doktrin mu’tazilah lebih lanjut menjelaskan bahwa tidak satupun yang menyerupainya, begitu sebaliknya tuhan tidak serupa dengan makhluknya.tegasnya mu’tazilah menolak antropomorfisme. Penolakan ini bukan semata mata pertimbangan akal, melainkan memiliki rujukan ang sangat kuat dalam alquran yang artinya tak ada satupun yang menyerupainya.(QS. Asy-syuara :9)[9]
Imam asy’ari,mantan penganut aliran mu’tazilah sampai ia berumur kurang lebih 40 tahun ,menggambarkan didalam kitabnya Maqalat al islamiyyin ,yang dikutip oleh  muhammad Abu Zahrah (t.T:40)bahwa tauhid menurut mu’tazilah ialah sebagai berikkut:
                Sesungguhnya Allah itu Esa,tidak ada yang menyerupai-Nya .Dia adalah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui .Allah bukan badan,bukan bayangan,bukan gambar,bukan sifat tidak mempunyai rupa dan tidak mempunyai rasa,tidak mendapatkan kegembiraan atau kelezatan.tidak mendapat sakit atau penyakit.dia tidak terbatas dan berkesudahan.tidak boleh lenyap dan tidak ditimpa oleh kelemahan dan kekurangan.Maha suci Allah dari jangkauan wanita,beristri  atau beranak.[10]
Atas dasar kepercayaan pokok ini golongan mu’tazilah menganggap mustahil terluhatnya Allah SWT pada hari kiamat nanti,karena  terlihat-Nya itu memerlukan kejasmanian dan arah,sedang Allah bukan jissim sehingga ia tidak berarah.Demikian pula mereka meniadakan sifat-sifat tuhan ,yaitu sifat-sifat yang mempunyai wujud sendiri di luar zat tuhan,atau dengan kata lain bahwa sifat-sifat tuhan tak lain kecuali Dzat-Nya ,maka yang di kadimitu dalam pandangan mereka bukan satu,tetapi terbilang.Demikian pula mereka menganggap bahwa alqur’an itu makhuk allah ,karena yang qadim itu tidak berbilang,sementara itu sebagian golongan mu’tazilah menafikan sifat kalam dari sifat Allah SWT.[11]
2.                   Al-‘Adl(Keadilan)

Semua orang yang beriman percaya akan keadilan tuhan.tetapi aliran mu’tazilah,seperti biasanya ,memperdalam arti keadilan dan menentukan batas-batasnya.sehingga dapat diterima oleh akal.dasar keadilan yang dipegangi oleh mereka ialah meletakkan pertanggung jawaban manusia atas segala perbuatanya,oleh karena itu aliran Mu’tazilah mengambil paham qadariah,karena faham inilah yang menurut mereka sesuai dengan faham keadilan Tuhan.
Berdasarkan pokok keadilan ini golongan Mu’tazilah berpendapat bahwa manusia itu bebas di dalam semua perbuatanya,tetapi kebebasan berbuat itu tidak mungkin menjelma kecuali dengan kekuasaan yang diciptakan oleh allah dan diberikan kepadanya .Dengan demikian ,taklifnya Allah untuk mengerjakan sesuatu setelah diberinya kekuasaan dan kebebasan bukanlah suatu kezhaliman ,tetapi maha suci Allah Dari Kelemahan,karena Tuhan yang menciptakan kekuasaan untuk tiap-tiap hamba melakukan kebebasan kerjanya.Tuhan adalah pemberi kekuasaan itu dantuhan mempunyai kekuasaan penuh untuk memberikan yang di berikan-Nya untuk kesempurnaan taklif atau mencabut apa yang telah diberikan-Nya itu.[12]
Dengan pendirian yang demikian ,maka  golongan mu’tazilah menolak pendapat golongan jabariyah yang mengatakan bahwa manusia dalam segala perbuatanya tidak mempunyai kebebasan,bahkan menganggap suatu kezhaliman menjatuhkan siksa kepadanya.
3.                   Al-Wa’d wa al-Wa’id(janji dan ancaman)
Prinsip ini kelanjutan dari prinsip keadilan Tuhan.aliran mu’tazilah yakin bahwa janji tuhan akan  memberikan pahala bagi mereka yang berbuat baik dan menghukum mereka yang berbuat jahat ,,pasti dilaksanakan pada hari kiamat nanti ,karena tuhan sudah mengatakan demikian.siapa yang keluar dari dunia dengan segala ketaatan dan taubat ia berhak mendaptkan pahala.siapa yang keluar dari dunia tanpa taubat  dari dosa besar yang pernah diperbuatnya ,maka ia akan di abadikan di neraka ,meskipun lebih ringan siksanya dari pada orang kafir.pendirian ini adalah kebalikan sama sekali dari pendirian golongan murji’ah  yang mengatakan bahwa ,kalau ada iman ,maksiat tidak berbahaya ,sebaiknya kalau ada kufur ,taat tak ada gunanya .kalau pendirian ini dibenarkan ,maka ancaman tuhan tidak akan ada artinya,suatu hal yang mustahil ada pada tuhan.
                Karena itu mereka mengingkari syafa’at(pengampunan)pada hari kiamat dengan mengenyampingkan ayat-ayat yang menetapkan Syafa’at(q.S.Saba’:ayat:23 dan Thaha,ayat 1009)dan memegangi ayat-ayat yang meniadakan(Q.S.al-baqarah,ayat:48 dan 254)karena syafa’at menurut mereka berlawanan dengan prinsip janji dan ancaman(A.Hanafi,1974:81)[13]
4.                   Al-manzilah baina al-manzilatain(kedudukan antara dua tempat.
Inilah ajaran yang mula- mula menyebabkan lahirnya aliran mu’tazilah.Menurut pandangan mu’tazilah, pelaku dosa besar tidak dapat dikatakan sebagai mukmin secara mutlak. Hal ini karena keimanan menuntut adanya kepatuhan kepada tuhan, tidak cukup hanya pengakuan dan pembenaran.Berdosa besr bukanlah kepatuhan melainkan kedurhakaan. Pelakunya tidak dapat dikatakan kafir secara mutlak karena masih percaya adnya tuhan, rasulnya, dan melakukan perbuatan baik.[14]
Mu’taziiah menempatkan pelaku dosa besar pada posisi antara vonis yang dijatuhkan oleh pengikut khawarij yang mengafirkan pelaku dosa besar ,dengan pendapat kaum murji’ah yang menganggap pelaku dosa besar tetap sebagai seorang mukmin.

5.                   Amar ma’ruf Nahi Munkar
Tugas amar ma’ruf nahi munkar ,ajaran dasar kelima dari mu’tazilah ini sebenarnya merupakan kewajiban semua ummat islam,menurut kedudukan dan fungsinya masing-masing di dalam masyarakat ,akan tetapi dalam menjalankan prinsip amar ma’ruf nahi munkar tersebut,kaum mu’tazilah memaksakan pahamnya kepada masyarakat ,terutama melalui gerakan inkwisisi(mihnah)yang mulai di jalankan oleh penguasa yang mendukungnya pada tahun 218 H,Mihnah adalah pemeriksaan terhadap para pejabat pemerintahan dan peradilan serta terhadap para ulama’ dan sekaligus memaksa mereka supaya menganut paham mu’tazilah bahwa al-qur’an itu mahuk yang hadist,kekerasan dan kebengisan jelas mewarnai gerakan mihnah tersebut.mereka ingin membasmi paham yang mengatakan bahwa al-Qur’an itu qadim ,sebab paham demikian ,memnuurut kaum mu’tazilah berarti menyekutukan Tuhan dengan al-qur’an ,sedang dosa besar syirik adalah dosa terbesar dan tidak dapat di ampuni ,jika tidak bertobat sebelum wafat (abdul aziz Dahlan,1987
:91).itulah paham yang dipandang munkar oleh Mu’tazilah ,sehingga karenanya perlu di luruskan dengan jalan kekerasan.Akibat tindakanya ini menimbulkan dendam dan kebencian luar biasa kebanyakan masyarakat islam kepada kaum Mu’tazilah ,sehingga membawa runtuh dan lenyapnya kaum mu’tazilah dalam perjalanan sejarah.

C. Tokoh-tokoh Airan Mu’tazilah
Tokoh – tokoh aliran mu’tazilah cabang basyrah
1. Washil ibn ‘Atha
Bahwa orang yang pertama membina lairan mu’tazilah adalah wasil ibn atha’.Ia lahir tahun 81H di madinah dan meninggal pada tahun 131H. Disan ia belajar pada Abu hasyim abdullah ibn muhammad ibn al- hanifah kemudian pindah ke basyrah dan belajar pada hasan al- basyri.
Ajaran pertama yang dibawa wasil tentulah paham manzilah bain al manzilatain, posisi di antara dua posisi dalanm arti posisi menengah.menurut ajaran ini, orang yang berdosa besar bukan kafir dan bukan pula mukmin, tetapi mfasiq yang menduduki di antara keduanya.Kata mukmin, dalam pendapat wasil, merupakan sifat baik dan nama pujian yang tak dapat diberikan kepada fasiq, dengan dosa besarnya. Tetapi predikat kafir tak pila dapat diberikan kepadanya, karena di balik dosa besarnya ia masih mengucapkan syahadat dan mengerjakan perbuatan- perbuatan baik.[15]
2. Abu Huzail Al- Allaf
                Abu huzail tetap di basrah dan menjadi pemimpin ledua dari cabang basyrah setelah wasil. Ia lahir pada tahun 135 H dan wafat di tahun 235 H dsan banyak berhubungan dengan filsafat yunani.
                Abu huzail menjelaskan apa sebenarnya yang di maksud dengan nafy al- sifat atau peniadaan sifat tuhan. Menurut paham wasil, kepada tuhan tidak mungkin diberikan sifat yang mempunyai wujud tersendiri dan kemudian melekat pada zat tuhan. Karena zat tuhan bersifat qadim maka apa yang melekat pada zat itu bersifat qadim pula. Dengan demikian sifat bersifat qadim.Ini menurut wasil akan membawa pada dua tuhan, untuk menjaga ketauhidan maka tuhan tidak boleh dikatakan bahwa tuhan mempunyai sifat dalam artidi atas.
                Tetapi allah menyebut dirinya didalam alquran mempunyai sifat- sifat,abu huzail membawa penyelesaian, tuhan betul mengetahui teapi bukan dengan sifatnya teapi dengan pengetahuan- Nya, dan pengetahuannya adalah zat- Nya.[16]
                Dengan jalan ini abu huzail mencoba mengatasi persoalan adanya tuhan lebih dari satu kalau dikatakan tuhan mempunyai sifat yang yang berwujud sendiri di luar zat tuhan. Dengan membuat sifat tuhan adalah zat tuhan, persoalan adanya yang qadim selain dari tuhan menjadi hilang dengan sendirinya. Inilah yang di maksud kaum mu’tazilah dengan nafy al- sifat.[17]
3. Ibrahim Ibn Sayyar Ibn Hani al- Nazzam
                Ia lahir di basrah tahun 185 H dan meninggal dalam usia muda di tahun 221 H. Dalam membahas keadilan tuhan abu huzail berpendat bahwa tuhan berkuasa berbuat zalim, tetapi mustahil tuhan bersikap zalim. Al nazzam berlainan dengan gurunya, berpendapat bahwa bukan hanya mustahil bagi tuhan bersikap zalim, bahkan tuhan tidak berkuasa untuk bertindak zalim. Tuhan tidak dapat dikatakan memounyai qudrah untuk berbuat yang salah dan jahat;perbuatan demikian tidak termasuk kedalam kekuasaan tuhan.alasan yang dimajukan al- nazzam ialah bahwa kezaliman hanya dilakukan oleh orang yang mempunyai cacat dan berhajat atau oleh orang yang tidak mempunyai pengetahuan (jahil).tidak mempunyai pengetahuan dan berhajat adalah sifat bagi yang tidak kekal, dan tuhan mahasuci dari sifat – sifat yang demikian.oleh karena itu tuhan tidak sanggup berbuat yang tidak baik dan seterusnya wajib bagi tuhan untuk berbuat hanya yang baik bagi manusia, yaitu apa yang disebut dengan istilah mu’tazilah al – salah wa al – aslah.[18]
Tokoh – tokoh mu’tazilah cabang baghdad
1.       Abu Musa al – Murdar (w.226 H)
Menurut al – syahrastani ia dengan kuat mempertahankan pendapat bahwa alquran tidak bersifat qadim, tetapi diciptakan tuhan; dan memandang orang yang mengatakan bahwa alquran qadim menjadi kafir, karena dengan demikian orang yang serupa itu telah membuat yang bersifat qadim menjadi dua.dengan demikian menurut al- mudar telah menduakan tuhan. [19]
2.       Hisyam Ibn ‘amr al – Fuwati
Ia mengatakan bahwa surga dan neraka belum mepunyai wujud sekarang karena masa memasuki surga atau neraka belum tiba. Dengan demikian adanya surga dan neraka sekarang tak ada faedahnya.[20]
3.       Abu husain al – khayyat (300 H) dan Summah Ibn Asyras (213 H)
Yang tersebut terakhir ini berpendapat bahwa daya berbuat manusi terdapat dalam tubuh manusia sendiri, yaitu tubuh yang baik dan sehat tidak mempunyai cacat. Dengan demikian daya itu tidak merupakan sesuatu diluar tubuh manusia. Ia juga beroendapat bahwa manusia melalui akalnya, berkewajiban mengetahui tuhan dan mengetahui perbuatabaik dan perbuatan buruk, sebelum wahyu turun.[21]
Al – khayyat dalam membahas soal sifat, mengatakan bahwa kehendak bukanlah sifat yang melekat pada zat tuhan dan pula tuhan berkehendak bukan melalui zat – Nya. Jika dikatakan tuhan berkehendak, itu berarti bahwa ia mengetahui, berkuasa dan tidak di paksa melakukan perbuatan – perbuatan Nya. Dan kalau tuhan disebut menghendaki perbuatan – perbuatan nya, itu berarti bahwa ia mencptakan perbuatan – perbuatan itusesuai dengan pengetahuannya. Dan selanjutnya jika disebut tuhan menghendaki perbutan – perbuatan hambanya, maka dimaksud ialah tuhan memerintahkan supaya perbuatan – perbuatan itu dilakukan. Dan arti tuhan mendengar adalah tuhan mengetahuiapa yang dapat di dengar; demikian pila dengan melihat berarti tuhan mengetahui apa yang dapat di lihat. [22]


BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
mu’tazilah berasal dari kata I’tazala yang berarti berpisah atau memisahkan diri yang berrti juga menjauh atau menjauhkan diri.Secara teknis, istilah mu’tazilah menunjuk pada dua golongan .
Golongan pertama (selanjutnya disebut mu’tazilah 1)muncul sebagai respon politik murni.golongan ini tumbuh sebagai kaum netral politik khususnya dalam arti bersikap lunak dalam menangi pertentangan antara ali bin abi tholib dan lawan- lawannya, terutama muawiyah, aisyah, abdul bin zubair. Menurut penulis golonganinilah yang mula-mula disebut kaum mu’tazilah karena mereka menjauhkan diri dari pertikaian masalah khilafah. Kelompok ini bersifat netral politik tanpa stigma teologis seperti yang ada pada kaum mu’tazilah yang tumbuh di kemudian hari .
Golongan kedua (selanjutnya disebut mu’tazilah 2)muncul sebagai respon persoalan teologis yang berkembangdikalangan khawarij dan murjiah akibat adanya peristiwa tahkim. Golongan ini muncul karena mereka berbeda pendapat dengan golongan khawarij dan murjiah tentang pemberian status kafir kepeda orang yang berbuat dosa besar.

Komentar Terhadap Pemikiran Aliran Mu’tazilah
Pendapat kelompok kami tentang Paham aliran mu’tazilah jika aliran mu’tazilah berkembang sampai sekarang maka masyarakat itu tidak akan percaya bahwa al-qur’an itu kalamullah dan apabila al-qur’an di lecehkan oleh umat selain agama islam maka reaksi dari umat islam itu sendiri tidak ada karena mereka percaya al-qur’an dapat di buat-buat menggunakan akal/rasio manusia semata.
Aliran mu’tazilah apabila berkembang sampai sekarang kezaliman akan terjadi dimana-mana karena tuhan itu tidak memiliki sifat apa-apa kecuali sifat Ada/Esa, sehingga pemikiran manusia tentang sifat-sifat tuhan dalam al-qur’an tidak benar ,berarti tuhan itu tidak satu tetapi banyak atau berbilang.



DAFTAR PUSTAKA
Nasution, Harun. Teologi Islam Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan. Universitas Indonesia-Press, Jakarta, 2002.
Rozak Abdul, Rosihan, Anwar, Ilmu Kalam, CV. Pustaka Setia, Bandung, 2003.
Zaenudin .Ilmu Tauhid Lengkap.PT. Rineka Cipta, Jakarta,1996.
Abd, Chalik, chaerudji. Ilmu kalam . PT. Diadit media, Jakarta,2007. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar