Senin, 30 April 2012

klasifikasi hukum syar'i taklifi dan wadh'i


BAB I
Pendahuluan
1.      Latar belakang
Manusia membutuhkan pedoman atau panduan untuk mengatur tata laku kehidupannya. Pedoman itu menentukan perbuatan yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Sebagai umat Islam, pedoman itu kita dapat dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Kita wajib mentaatinya. Al-Qur’an adalah sumber pokok hukum Islam yang pertama dan As-Sunnah berfungsi untuk memperkuat, memperjelas dan menetapkan yang belum disebut dalam Al-Qur’an. Rasulullah SAW menjadi uswatun hasanah bagi kita.
Al-Qur’an mengandung hukum-hukum yang kebanyakan bersifat universal. Hukum suatu masalah kadang berada di beberapa surat dan ayat yang berbeda. Misalnya, hukum pernikahan terdapat pada surat Al-Baqarah, surat Ath-Thalaq dan lain-lain sehingga kadang hukum-hukum dalam Al-Qur’an tidak mudah dipahami.
Ketika nabi Muhammad SAW masih ada, setiap muncul masalah baru atau para sahabat kesulitan mamahami kandungan Al-Qur’an, mereka langsung bertanya kepada Rasulullah SAW. Begitu juga pada masa sahabat dan tabiin, hal itu masih mudah dilakukan.
Ketika Islam sudah tersiar keluar negara Arab, tidak semua orang dengan mudah memahami Bahasa Al-Qur’an dan As-Sunnah. Di sinilah Islam memberi ruang bagi akal manusia untuk menafsirkannya. Beruntunglah kita pada awal abad pertama banyak fatwa Imam Abu Hanifah (80-150 H) tentang kaidah-kaidah memahami ayat-ayat Al-Qur’an dan As-Sunnah
Salah seorang muridnya yang bernama Abu Yusuf pernah mencatatkan fatwa-fatwa itu yang kemudian dikenal sebagai aggaran Ushul Fiqih. Pada abad kedua, Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’I (150-204H) termasyhur sebagai yang pertama menyusun Ushul Fiqih secara sempurna. Catatan-catatan itu sampai sekarang tetap terpelihara dalam kitab Ar-Risalah. Sehingga meskipun muncul masalah baru yang belum ditentukan hukumnya dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, kita akan lebih mudah menentukannya untuk kemaslahatan kehidupan manusia.


2.      Rumusan masalah
1)      Apa pengertian dari hokum syar’i?
2)      Bagaimana pembagian hokum syar’i menurut ushul figh?
3)      Apa pengertian hukum Taklifi dan pembagiannya?
4)      Apa pengertian hukum Wadh’i dan pembagiannya?

3.       Tujuaan
1)      Untuk mengetahui pengertian hokum menurut ushul figh tentunya.
2)      Mendiskripsikan pembagian hokum.
3)      Untuk mengetahui pengertian hukum Taklifi dan pembagiannya.
4)      Untuk mengetahui pengertian hukum Wadh’i dan pembagiannya.


BAB II
Pembahasan
A.    Hukum syar’i
Pengertian secara bahasa adalah :
اِثْباَتُ شَيءٍ الِىَ شَيءٍ
Menetapkan sesuatu atas sesuatu, atau memindahkan sesuatu daripadanya.”
Syar’i atau syari’at dari segi bahasa berarti jalan,[1] sedangkan menurut istilah Ahli Ushul Fiqih, hukum ialah :
خِطَابُ اللهِ اْلمُتَعَلِّقُ بِأَفْعَالِ الْمُكَلِّفِيْنَ طَلَبًا اَوْ تَخْيِيْرًا اَوْ وَضْعًا
Khitab (titah) Allah atau sabda Nabi Muhammad SAW yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf (orang yang telah baligh dan berakal), baik tuntutan )suruhan, larangan( atau takhyir (pilihan mengerjakan atau meninggalkan), atau Wadh’i (menjadikan sesuatu sebagai sebab, syarat atau penghalang bagi suatu hukum.)”
Berdasar definisi ini,Ulama Ushul Fiqih membagi hukum syariat menjadi dua macam, yaitu hukum Taklifi (thalaban wa takhyiran) dan Wadh’i.
B.     Klasifikasi hukum syar’i

1. Hukum Taklifi
Pengertian hukum Taklifi adalah :
كَلِّفِيْنَ المُكَلِّفِيْنَ بِأَفْعَالِ بِأَفْعَالِ المُتَعَلِّقُ الشَرْعِ خِطَابُ اقْتَضَاه مَا تَخيِيْرٍ اَوْ طَلَبٍ مِنْ
 (عَنْهُ وَالتَّرْكِ لفِعْلِ ا بَيْنَ )

 Hukum yang menetapkan tuntutan melakukan sesuatu, atau tuntutan meninggalkan sesuatu, atau pilihan melakukan atau meninggalkan sesuatu, kepada seorang mukallaf.”
Maka hukum Taklifi ada tiga yakni:
 1)  tuntutan melakukan,
 2)  tuntutan meninggalkan,
 3)  pilihan: melakukan atau meninggalkan
Contoh hukum Taklifi:
a.       Tuntutan mengerjakan suatu perbuatan : berpuasa pada bulan Ramadhan. QS Al Baqarah : 183.
$ygƒr'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä |=ÏGä. ãNà6øn=tæ ãP$uÅ_Á9$# $yJx. |=ÏGä. n?tã šúïÏ%©!$#                           `ÏB öNà6Î=ö7s%       öNä3ª=yès9 tbqà)­Gs? ÇÊÑÌÈ  

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah/2 : 183)
b.      Tuntutan meninggalkan suatu perbuatan : Berkata tidak sopan kepada orang tua.
فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا ….
Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka… (QS Al-Isra’/17 : 23)

Macam- macam hukum Taklifi
WAJIB ( Iijab)
ialah tuntutan syarak ke atas mukallaf supaya melakukan sesuatu perbuatan dengan tuntutan pasti (jazmun). Sekiranya tidak dilaksanakan, dia akan berdosa. Jika dilaksanakan mendapat pahala. Contohnya solat lima waktu.
Firman Allah SWT :
"Dirikanlah solat dan keluarkan zakat".
Ayat di atas menjelaskan bahawa solat dan zakat itu adalah WAJIB kerana ia satu bentuk tuntutan yang pasti (jazmun) iaitu berdasarkan dalil qat'i, al-Quran al-Kariim.
Para ulama' mazhab Hanafi membezakan di antara wajib dan fardhu. Jika tuntutan supaya melakukan sesuatu dalam bentuk pasti (jazmun) berdasarkan al-Quran dan Hadis Mutawatir, maka ia dinamakan FARDHU. Jika berdasarkan dalil-dalil lain, selain drp al-Quran dan Hadis, maka ia dinamakan WAJIB.
Contohnya, membaca mana-mana surah dalam solat adalah FARDHU kerana ia berdasarkan dalil qat'i iaitu al-Quran. Sementara membaca surah al-Fatihah pula adalah wajib kerana ia berdasarkan dalil yang zanni iaitu HADIS AHAD.

HARAM
ialah tuntutan syarak supaya meninggalkan sesuatu perbuatan dengan tuntutan pasti (jazmun). Sekiranya seseorang mukallaf itu melakukannya, dia akan berdosa. sebaliknya jika ditinggalkan berdosa.

Contohnya, larangan mengumpat.
Firman Allah SWT;
.".. dan janganlah sebahagian drp kamu mengumpat sebahagian yang lain" ayat 12 surah al-Hujarat
Ayat di atas menjelaskan bahawa mengumpat itu adalah HARAM kerana ia satu bentuk tuntutan yang pasti (jazmun) iaitu berdasarkan dalil qat'i, al-Quran al-Kariim.

MAKRUH
Sesuatu perkara yang mana lebih afdhal (utama) ditinggalkan  dari dilakukan atau apa yg dituntut oleh syarak kepada setiap mukallaf supaya ditinggalkan (bukan dgn  ilzam), di mana lafaz adalah lafaz benci  larangan tetapi terdapat qarinah yang menunjukkan ia bukanlah haram, tetapi Makruh.
 Contoh.
 1. Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Quran itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.  Al-Maidah : 101. 
 Qarinah daripada hukum Haram kepada hukum Makruh berdasarkan..
Dan jika kamu menanyakan di waktu Al Quran itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.  Al-Maidah : 101. 

Hukum Makruh ialah pembuatnya tidak berdosa, tetapi hanya dicela. Sesiapa yang meninggalkannya (tidak membuat perkara tersebut) akan mendapat pahala dan pujian drp Allah SWT.

HARUS
 Sesuatu perkara yang mana Syarak telah memberi pilihan kepada setiap mukallaf sama ada untuk melakukannya atau meninggalkannya. Tidak ada pujian dan celaan kepada sesiapa  yang melakukannya atau meninggalkannya… jadi hukumnya adalah HALAL.
 Contohnya…
 Pada hari Ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan[402] diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu Telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. barangsiapa yang kafir sesudah beriman (Tidak menerima hukum-hukum Islam) Maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi. Al-Maidah ; 5
 Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma'ruf dan janganlah kamu ber'azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah, sebelum habis 'iddahnya. dan Ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; Maka takutlah kepada-Nya, dan Ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. Al-Baqarah : 235
 Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri, makan (bersama-sama mereka) dirumah kamu sendiri atau dirumah bapak-bapakmu, dirumah ibu-ibumu, dirumah saudara- saudaramu yang laki-laki, di rumah saudaramu yang perempuan, dirumah saudara bapakmu yang laki-laki, dirumah saudara bapakmu yang perempuan, dirumah saudara ibumu yang laki-laki, dirumah saudara ibumu yang perempuan, dirumah yang kamu miliki kuncinya[1051] atau dirumah kawan-kawanmu. tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendirian. Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah- rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatnya(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya. An-Nuur : 61

SUNAT (MANDUB)
 Apa yang dituntut oleh syarak utk melakukannya dengan lafaz tidak jazmun (tidak qat'ie),   iaitu dengan memuji org yang melakukannya dengan mengurniakan pahala, tidak mencela dan tidak berdosa org yang meninggalkannya.
    Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.  Al-Baqarah : 282.
 Lafaz di atas menunjukkan lafaz tuntutan yang pasti (jazmun) tetapi terdapat qarinah ….
 .  ….. Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, Maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) Al-Baqarah : 283
 Nas al-Quran di atas (al-Baqarah : 283) menunjukkan bahawa tuntutan untuk menulis/mencatat hutang adalah Sunat (Mandub) bukannya Wajib.
   "hendaklah kamu buat perjanjian dengan mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka". An-Nuur : 33.
Ayat di atas juga menunjukkan TIDAK WAJIB menulis/membuat perjanjian dengan adanya Qarinah berdasarkan kaedah syarak “Sesungguhnya pemilik harta mempunyai kebebasan dalam mengurus/membelanjakan hartanya”

2. Hukum Wadh’i
 Allah SWT menjadikan syariat itu kabar gembira dan kemudahan bagi hambanya, dari keadaan yang lemah, dan segala urusan yang darurat. Hukum Wadh’ie sebagaimana telah disebutkan dalam kitab Al-wadhih, fii Usulil Fiqih,yang ditulis oleh Muhammad Sulaiman Abdullah al-Assqar. Bahwasannya titah Allah SWT dalam kitabnya, dengan menjadikan sebuah perintah, sebagai tanda atas perintah yang lainnya.
Adapun menurut pendapat yang lainnya,dalam buku Ushul Fikih Bagi Pemula yang ditulis oleh; Abdul Mughits, M.Ag hukum Wadh’ie adalah hukum yang berhubungan dengan dua hal, yakni antara dua sebab (sabab) dan yang disebabi (musabbab), antara syarat dan disyarati (masyrut), antara penghalang (mani’) dan yang menghalangi (mamnu), antara hukum yang sah dan hukum yang tidak sah.
3. Macam-macam Hukum Wadh’i
1. Sebab (al-Sabab)
Sabab yang dalam bahasa Indonesia disebut “sebab’, secara etimologis, artinya adalah “sesuatu yang memungkinkan dengannya sampai pada suatu tujuan. “dari kata inilah dinamakan “jalan”, itu sebagai sabab, karena “jalan” bisa menyampaikan seseorang kepada tujuan. Menurut terminoogi, Imam al-Amidi, mendefinisikan dengan sifat Zhahir yang dapat diukur yang ditunjukkan oleh dalil Sam’I (al-Qur’an dan sunnah) bahwa keberadaannya sebagai pengenal bagi hukum syari’.
Sedangkan menurut Prof.DR. Rachmat Syafii, M.A dalam bukunya Ilmu Ushul Fiqih, bahwa Sebab menurut bahasa adalah sesuatu yang dapat menyampaikan kepada sesuatu yang lain berarti jalan yang dapat menyampaikan kepada sesuatu tujuan. Menurut istilah adalam suatu sifat yang dijadikan sari’ sebagai tanda dari hukum. [2]
Pengertian ini menunjukan bahwa sebab sama dengan Illat walaupun sebenarnya ada perbedaan antara sebab dengan Illat tersebut. Akan tetapi tidak setiap sebab disebut Illat. Jadi sebab itu masih bersifat umum sedangkan Illat itu sudah bersifat khusus. Contoh dari adanya sebab sesuatu adalah sebagaiman Allah SWT berfirman;
$pkšr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä #sŒÎ) óOçFôJè% n<Î) Ío4qn=¢Á9$# (#qè=Å¡øî$$sù
Nä3ydqã_ãr öNä3tƒÏ÷ƒr&ur n<Î) È,Ïù#tyJø9$# (#qßs|¡øB$#ur öNä3ÅrâäãÎ/ öNà6n=ã_ör&ur n<Î) Èû÷üt6÷ès3ø9$# 4
Artinya; Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku,… (Al-Maidah:6)
Adapun secara terminologi al-sabab adalah sesuatu yang dijadikan oleh Syari’ untuk mengetahui hukum syariat tertentu, artinya hukum syariat tersebut akan muncul jika al-sabab tersebut ada, sebaliknya hukum syariat akan hilang dengan tidak adanya al-sabab tersebut. Seperti firman Allah Swt. dalam surat al-Isra`:
ÉOÏ%r& no4qn=¢Á9$# Ï8qä9à$Î! ħôJ¤±9$# 4n<Î) È,|¡xî È@ø©9$# tb#uäöè%ur ̍ôfxÿø9$# (                                               ¨bÎ) tb#uäöè% ̍ôfxÿø9$# šc%x. #YŠqåkôtB ÇÐÑÈ  

Artinya: Dirikanlah salat dari sesudah matahari tergelincir. (QS. Al-Isrâ`: 78)
Dalam ayat tersebut diterangkan bahwa condongnya matahari menjadi al-sabab adanya kewajiban salat dzuhur.
2. Syarat (al-Syarthu)
Syarat adalah sesuatu yang berada di luar hukum syari’, tetapi keberadaan hukum syara’ bergantung kepadanya. Apabila syarat tidak ada maka hukum pun tidak ada, tetapi adanya syarat tidak mengharuskan adanya hukum syara’. Contohnya seperti ketika kita akan melaksanakan shalat, maka syarat yang harus dipenuhi adalah berwudhu. Akan tetapi ketika kita berwudhu, kita tidak harus melaksanakan shalat.
Macam-macam Syarat
1) Dilihat dari segi hubungannya dengan al-sabab dan al-musabbab, al-syarthu dibagi menjadi dua macam:
 Al-Syarthu yang menjadi pelengkap al-sabab, artinya al-syarthu menguatkan akan makna sebab akibat (al-sababiyyah) yang terdapat dalam hukum tersebut. Sebagai contoh, penjagaan harta benda adalah syarat untuk melaksanakan hadd dalam pencurian.
 Al-Syarthu yang menjadi pelengkap al-musabbab, artinya menguatkan hakikat al-musabbab atau rukunnya. Sebagai contoh, menghadap kiblat menjadi syarat sahnya salat.
3. Pencegah (Al-Mani’)
Definisi al-mani’ secara etimologi berarti “penghalang dari sesuatu”. Secara terminologi; sesuatu yang ditetapkan syariat sebagai penghalang bagi adanya hukum atau penghalang bagi berfungsinya sesuatu sebab. Sebuah akad perkawinan yang sah karena telah mencukupi syarat dan rukunnya adalah sebagai sebab waris mewarisi. Tetapi masalah waris mewarisi itu bisa terhalang di sebabkan suami misasnya membunuh istrinya.
Macam-macam al-Mani’
Al-Mâni’ terbagi menjadi dua macam:
Mâni’ al-hukmi, yaitu al-mani’ yang dapat menghilangkan suatu hukum syariat. Seperti tidak berlakunya qishâsh bagi seorang ayah yang telah membunuh anaknya.
Mani’ al-sabab, yaitu al-mani’ yang dapat menghilangkan al-sabab yang telah memunculkan suatu hukum syariat. Seperti mengurangi nisab dalam zakat yang menjadi al-mâni’ dari kewajiban zakat.
4. Sah (Al-Shihhah)
As-sihhah adalah suatu hukum yang sesuai dengan ketentuan syari’ yaitu terpenuhinya sebab, syarat dan tidak ada mani’. Misalnya, mengerjakan shalat duhur setelah tergelincir matahari (sebab) dan telah berwudu (syarat), dan tidak ada halangan bagi orang yang mengerjakannya (tidak haid, nifas, dan sebagainya). Dalam hal ini, pekerjaan yang dilaksanakan itu hukumnya sah.
Daripenjelasan di atas bahwa As-sihhah adalah apabila kita akan mengerjakan sesuatu dikatakan sah apabila sudah ada sebab dan syarat itu terpenuhi, dan tidak ada penghalang dari kedua hal tersebut.
5. Batal (al-Buthlan)
al-Buthlan adalah sesuatu yang dilakukan atau hal yang diadakan oleh orang mukallaf yang tidak sesuai dengan tuntunan syara’ adalah tidak sah dan tidak mempunyai akibat hukum, baik tidak sahnya itu karena cacat pada rukun, maupun tidak terpenuhi syarat-syarat yang diperlukan dan baik dalam soal ibadah, maupun dalam soal mu’amalah. Maka atas dasar ini sebagian para ahli ushultidak membedakan antara pengertian Bathil dan Fasid.
Jadi al-Buthlan adalah sesuatu perbuatan yang tidak disyariatkan oleh Islam, oleh sebab itu segala perbuatan yang tidak disyariatkan Islam adalah batal, seperti halnya; Memperjualkan minuman keras, Narkoba. Akad ini dipandang batal , karena minuman keras dan narkoba tidak bernilai harta dalam pandangan syara.

6. Al-‘Azimah
Secara etimologi ‘azimah berarti al-iradah al-muakkidah atau al-qashdu al-muakkid, yaitu keinginan yang kuat.akan tetapi Azimah dalam hukum-hukum yang disyariatkan Allah kepada hamba-hambanya sejak semula. Jadi Azimah adalah peraturan yang telah ditetapkan oleh Allah sejak dulu (asli) yang berlaku umum.
Adapun secara terminologi ‘azimah berarti hukum syariat bagi sorang mukallaf yang berlaku dalam segala situasi dan kondisi. Seperti kewajiban salat, zakat, puasa, dan lain-lain.
Misalnya bangkai, menurut aslinya, adalah haram dimakan oleh semua orang mukallaf . akan tetapi bagi orang yang dalam keadaan terpaksa, ia diperkenankan untuk memakannya, asal tidak berlebih-lebihan ataudengan maksud untuk menentang ketentuan Allah. Haram memakan bangkai itu azimah, sedangkan boleh memakan bangkai itu adalah rukhsah.
7. al-Rukhshah
Al-rukhsah ialah ketentuan yang disyaruatkan oleh Allah sebagai peringatan terhadap orang mukallaf dalam hal-hal yang khusus. Secara etimologi rukhshah berarti al-suhulah dan al-yusru, atau al-tashil dan al-taisir yang berarti memudahkan atau meringankan. Adapun secara terminologi rukhshah adalah hukum syariat yang telah ditetapkan oleh Syari’ sebagai peringanan beban bagi seorang mukallaf dalam kondisi tertentu, atau hukum syariat yang ditetapkan karena adanya halangan atau masyaqqah dalam keadaan tertentu.
Macam-macam Rukhshah
Pembolehan sesuatu yang haram pada waktu darurat atau terpaksa. Seperti makan bangkai atau makanan yang diharamkan syariat ketika dalam keadaan sangat lapar, tidak ada makanan lain, dan takut akan kematian.
 Pembolehan meninggalkan kewajiban. Seperti berbuka puasa bagi seorang musafir atau seorang yang sedang sakit di bulan ramadhan dikarenakan adanya masyaqqah.
 Pembolehan suatu akad muamalat yang menjadi kebutuhan manusia. Seperti akad jual beli pemesanan. Pada dasarnya akad jual beli pemesanan tidak diperbolehkan, karena barang yang dibeli tidak ada ketika akad berlangsung. Syâri’ telah membolehkannya karena adanya kebutuhan manusia dan telah menjadi hukum kebiasaan yang telah berlaku.




BAB III
Penutup
Simpulan
Berdasarkan makalah diatas kami dapat menyimpulkan bahwa hukum Taklifi adalah Hukum yang menetapkan tuntutan melakukan sesuatu, atau tuntutan meninggalkan sesuatu, atau pilihan melakukan atau meninggalkan sesuatu, kepada seorang mukallaf.
Macam – macam hukum Taklifi
1.      Wajib
2.      Haram
3.      Makruh
4.      Harus
5.      Sunnat
hukum Wadh’ie adalah hukum yang berhubungan dengan dua hal, yakni antara dua sebab (sabab) dan yang disebabi (musabbab), antara syarat dan disyarati (masyrut), antara penghalang (mani’) dan yang menghalangi (mamnu), antara hukum yang sah dan hukum yang tidak sah.
Macam- macam huku  Wadh’i
1.      Sebab (al-Sabab)
2.      Syarat (al-Syarthu)
3.      Pencegah (Al-Mani’)
4.       Sah (Al-Shihhah)
5.      Batal (al-Buthlan)
6.      Al-‘Azimah
7.      Al-Rukhshah




Daftar pustaka
-          Mubarok, Jaih. 2002. Kaidah Fiqih; Sejarah Dan Kaidah Asasi. Jakarta: Grafindo
-          Abu Zahrah Muhammad Prof, Ushul Fiqih, (Jakarta;2005), Pustaka Firh.
-          http://opickel-fadl.blogspot.com/2011/05/makalah-hukum-wadhi.html

.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar